27 Maret 2026 Administrator 12x dibaca Pembangunan
Matahari yang Mengalirkan Air
Pagi itu matahari baru saja naik di atas Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Cahaya kuningnya jatuh perlahan di hamparan sawah yang mulai menghijau. Di persawahan tepi Sungai Dulang, puluhan panel surya berdiri menghadap langit. Sekilas tampak seperti bangunan sederhana di tengah persawahan. Namun ketika matahari mulai tinggi, panel-panel itu mulai bekerja—menangkap cahaya, mengubahnya menjadi listrik, lalu menghidupkan pompa air. Tak lama kemudian, air sungai mulai terangkat. Dari bibir sungai, air dialirkan melalui saluran menuju petak-petak sawah milik warga. Perlahan, air memenuhi tanah yang beberapa tahun lalu sering dibiarkan kering saat musim kemarau datang. Di Desa Krandegan, matahari kini tidak hanya menyinari sawah. Ia mengalirkan air. Sawah yang Bergantung pada Hujan Bertahun-tahun lamanya, kehidupan petani di desa ini berjalan mengikuti irama hujan. Desa Krandegan merupakan desa agraris. Dari sekitar 170 hektar wilayah desa, sekitar 70 hektar merupakan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Sebagian besar sawah itu adalah sawah tadah hujan. Ketika hujan datang, sawah-sawah penuh kehidupan. Padi tumbuh, petani bekerja dari pagi hingga petang, dan desa terasa sibuk. Namun ketika kemarau tiba, cerita berubah. Banyak sawah tidak dapat ditanami karena kekurangan air. Jika petani ingin tetap menanam padi, air harus diangkat dari sungai menggunakan pompa diesel. Cara itu memang membantu, tetapi biayanya mahal. Untuk dua musim tanam dalam setahun, desa harus mengeluarkan sekitar Rp160 juta hanya untuk bahan bakar dan operasional pompa diesel. Selain menguras biaya, mesin diesel juga meninggalkan jejak asap dan polusi di sekitar sawah. Mencari Jalan Keluar Situasi itu mendorong Pemerintah Desa Krandegan mencari cara lain. Mereka melihat satu potensi yang sebenarnya selalu ada, tetapi selama ini belum benar-benar dimanfaatkan: matahari. Di wilayah tropis seperti Purworejo, sinar matahari tersedia hampir sepanjang tahun. Dari situlah muncul gagasan untuk memanfaatkan energi surya sebagai sumber tenaga bagi sistem irigasi. Desa kemudian menggandeng berbagai pihak: perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor swasta, untuk mewujudkan ide tersebut. Pada tahun 2022, pompa air bertenaga surya pertama mulai dipasang di desa ini. Saat itu, mungkin belum banyak yang membayangkan bahwa langkah kecil tersebut akan mengubah wajah pertanian di Krandegan. Air yang Menghidupkan Sawah Seiring waktu, jumlah pompa tenaga surya terus bertambah. Kini Desa Krandegan memiliki 7 unit pompa tenaga surya dengan total kapasitas sekitar 43 PK atau sekitar 32 kilowatt. Sistem ini melayani sekitar 250 petani dan mengairi puluhan hektar sawah. Perubahan mulai terasa. Jika sebelumnya petani hanya bisa menanam padi dua kali dalam setahun, kini mereka mampu meningkatkan intensitas tanam menjadi tiga kali panen setiap tahun. Sawah yang dahulu kering saat kemarau kini tetap hijau. Panen yang Bertambah Dengan luas lahan sekitar 70 hektar dan produktivitas sekitar 6 ton gabah per hektar, setiap panen di Desa Krandegan menghasilkan sekitar 420 ton gabah. Jika harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, nilai panen mencapai sekitar Rp2,73 miliar. Tambahan satu musim tanam berarti memberikan tambahan nilai ekonomi sekitar Rp2,73 miliar setiap tahun bagi masyarakat desa. Selain meningkatkan hasil pertanian, desa juga menghemat biaya energi sekitar Rp160 juta per tahun karena tidak lagi bergantung pada bahan bakar diesel. Inovasi dari Desa Di tengah perkembangan sistem irigasi tenaga surya, muncul pula sebuah inovasi lokal yang unik. Namanya Gerandong, singkatan dari Gerobak Surya Dorong. Gerandong adalah pompa tenaga surya yang dipasang pada sebuah gerobak sehingga dapat dipindahkan sesuai kebutuhan pengairan sawah. Inovasi ini lahir dari kebutuhan sederhana: tidak semua lahan dapat dijangkau oleh jaringan irigasi utama. Kini Gerandong bahkan telah berkembang menjadi Gerandong Pintar, setelah dilengkapi teknologi Internet of Things yang memungkinkan pompa dikontrol melalui telepon pintar. Energi Bersih dari Desa Penggunaan energi surya juga membawa manfaat bagi lingkungan. Sebelum beralih ke tenaga surya, pompa diesel desa mengonsumsi sekitar 16.000 liter solar setiap tahun. Konsumsi tersebut menghasilkan sekitar 43 ton emisi karbon per tahun. Dengan memanfaatkan energi matahari, emisi tersebut kini dapat ditekan secara signifikan. Matahari dan Masa Depan Desa Kini, ketika matahari terbit di Desa Krandegan, ia tidak hanya membawa cahaya. Ia juga membawa air. Dari panel-panel surya di persawahan tepi Sungai Dulang, energi matahari diubah menjadi tenaga yang menghidupkan sawah, menggerakkan pompa, dan menjaga padi tetap tumbuh meski musim kemarau datang. Di desa ini, matahari telah menemukan peran baru. Bukan sekadar menerangi langit. Melainkan mengalirkan air—dan bersama air itu, harapan bagi para petani

Bagikan: